“tolong, jangan mengharapkan gue lagi...” pemuda itu lalu pergi. Menyisakan endapan angan yang mengerak dalam hati gadis ini. Membuatnya hanya bisa terdiam dalam ketersimaan. Dari tempatnya sekarang masih bisa ia lihat punggung tegap pria itu meninggalkannya. Menjauh. Tanpa sekalipun menatap ke belakang. Jadi. Begini ya rasanya dibuang?
Shilla terjatuh. Meluruh dengan tanah basah dan hujan. Satu kalimat pernyataan itu membunuhnya pelan-pelan. Pria itu sudah tidak mencintainya lagi. Kalau sudah begitu. Shilla bisa apa? Bisa apa ia dengan perasaan cintanya ini? Mau ia kemanakan rasa ini? Ia seorang wanita. Tak semudah itu baginya untuk melupakan. Tapi. Membuat pria itu kembali. Hanya akan menghasilkan bulir-bulir air mata seperti ini lagi.
Kenapa dunia begitu kejam? Apa hanya orang-orang cantik nan sempurna yang boleh merasakan indahnya cinta? Lalu. Orang-orang biasa seperti Shilla harus selalu menelan penderitaan semacam ini? Begitu? Kalau begitu, kenapa tidak semuanya saja diciptakan cantik dan sempurna. Supaya tidak ada lagi yang perlu merasakan sakit seperti Shilla. Katanya, cinta itu tidak memandang kesempurnaan, tapi cinta itulah yang menjadikan kita sempurna. Mana buktinya? Yang selalu dilihat gadis ini adalah, semua pria hanya sudi menyukai orang-orang yang fisiknya sempurna. Lalu kapan giliran orang sepertinya? Apa harus tunggu sampai mereka mampu melakukan operasi plastik?
Tapi Shilla tidak jelek. Bisa dibilang, fisicly, dia lumayan. B+ lah. Shilla sendiri mengakuinya. Tapi. Kenapa ia tak masuk barisan orang-orang yang kisah cintanya berjalan mulus? Kenapa penolakan ini yang harus selalu ia terima? Apa ia terlalu serakah dalam mematok selera untuk pasangannya? Tidak ah. Buktinya pemuda yang baru saja menghancurkan hatinya—lagi—itu juga tidak bisa dibilang sesuai kriteria serba sempurnanya. Dia tampan memang, tapi tidak setampan Gabriel kakaknya. Dia juga pintar, tapi jelas masih kalah dengan Ozy temannya yang juragan piala olimpiade. Dia lumayan keren sih, tapi kalau dibandingkan Rio sih, waah jauh. Hmm. Dia piawai dalam bermusik, tapi kalah lah kalau dibandingkan Ray adik kelasnya. Ah. Iya. Dia jago olahraga, tapi Shilla sendiri yakin kalau ditandingkan dengan kak Cakka, pemuda itu pasti kalah telak. Tapi. –dibalik semua ketidaksempurnaannya itu—nyatanya Shilla malah jatuh cinta padanya, bukan pada pria-pria serba sempurna yang berderet di sekelilingnya. Kalau tresno jalaran soko kulino, seperti yang selalu dikatakan eyangnya. Lalu kenapa bukan kepada mereka saja Shilla jatuh cinta. Kenapa malah Alvin yang sudah hampir tiga tahun tidak ia sanding yang ia cintai? Apa tiga hari MOS dahulu memang waktu yang sangat lama sehingga hatinya yang jadi begitu terbiasa mencintai Alvin, sampai tak bisa merasakan getaran pada pria lain?
Shilla merasakan sesuatu bergetar dari tasnya. Pasti handphonenya. Dengan gerakan amat lemah, gadis itu mengambil handphone dari saku tasnya yang sudah begitu basah—sama seperti dirinya sekarang. Sementara tangan kanannya berusaha meraih handphone yang agak jauh dari tangannya, tangan kirinya mulai menyeka air mata dan air hujan yang membuat matanya begitu berkabut. Ah. Ini dia. Sambil menarik nafas panjang gadis itu memeriksa layar. Menyenandungkan pedih dan bahagia dalam satu tarikan nafas selanjutnya. Kenapa nama itu lagi? Mau apa dia? Bukankah tadi dia sendiri yang mengakhiri penantian Shilla? Bukannya ia yang menyuruh Shilla untuk tak lagi terlalu berharap padanya? Apa dia mau membubuhi garam pada luka menganga di hati Shilla? Atau....atau dia mau mengobati semua luka itu dan menggantinya dengan luapan kasih sayang? Yah. Apapun itu. Shilla akan menjadi seperti yang tadi dikatakan Alvin saja. Ia tak akan terlalu berharap lagi. Karena Shilla yakin, apapun yang ada di dalam pesan itu, tidak mungkin berupa pilihannya yang nomor dua.
From: Kokoh Ganteng ;)
Pulanglah Shilla. Jangan sakiti diri lo sendiri!
Shilla menggeram. Menggenggam handphonenya terlalu kuat. Siapa? Siapa yang menyakiti?
“brengsek!!” Nyatanya Shilla memang menerima pesan itu lebih dari sekedar yang mampu ditelaah orang lain. Tepat seperti apa yang diharapkan pemuda pengirim pesan itu.
Pulanglah Shilla. Pulang dan lupakan Alvin.
Jangan sakiti diri lo sendiri. Jangan menyakiti diri sendiri karena cinta yang tak mungkin pemuda itu balas.
Jadi. Pesan itu adalah garam.
**
Esoknya. Shilla terbangun di kamarnya sendiri. Hidungnya mencium wangi roti berselai kacang dan segelas susu cokelat yang ternyata memang sudah tersedia di nakas samping ranjangnya. Beberapa saat kemudian derit pintu jati putih menghadirkan sosok mamanya yang membawa nampan berisi air putih dan entah apa yang ada di dalam toples kaca.
“udah bangun sayang?” tanya mamanya yang dengan segera duduk di tepian ranjang
“ya ini keliatannya udah bangun belum...” ujar Shilla malas sambil mengambil gelas susu cokelatnya dan menghabiskannya dalam satu tegukan
“hemm, kamu tuh ngapain sih kemarin di taman? Sampai pingsan gitu....untung ada Alvin, kalo nggak huh mama nggak tau deh gimana nasib kamu selanjutnya...” ujar mamanya santai sambil mendekatkan punggung tangannya ke dahi Shilla, tak sadar efek buruk yang ditimbulkan dari satu nama yang baru saja ia sebut bagi anaknya
“Alvin?” gumam Shilla, tak jadi menggigit rotinya karena nama itu terlanjur membuat selera makannya menghilang
“tuh kan panas banget, hari ini kamu bolos aja dulu, nanti siangan kita ke dokter...” oceh mamanya yang bahkan tak mendengar gumaman anak gadis satu-satunya itu
“hah dokter? Nggak nggak! Shilla berangkat aja deh ma, nggak enak bolos terus” kilah Shilla yang sebenarnya Cuma takut disuntik itu
“nggak papa nih? Badan kamu Panas gitu?” tanya mama khawatir
“nggak papa maaaaa...Shilla nggak pusing nggak apa kok” sebenarnya sih, Shilla merasakan di dalam kepalanya sekarang sedang ada semacam bianglala yang berputar terus sampai kepalanya mau pecah. Tapi. Daripada ke dokter......
“ya udah, tapi pake supir ya?”
“loh, bukannya pak agus lagi pulang kampung?”
“hemmm...” Shilla merasa sesuatu yang pasti buruk akan terjadi. Lagipula, kenapa mamanya senyum mengerikan begitu?
**
Benar kan. Sesuatu yang teramat buruk itu kini tengah Shilla hadapi.
“lo nggak papa masuk? Muka lo pucet gitu?” tanya sang supir yang tak lain adalah ALVIN!
“gue yang tau gimana kondisi gue, jadi lo nyupir nyupir aja nggak usah kebanyakan bacot” jawab Shilla seketus mungkin, setidaknya—pikirnya—kalau ia bersikap begini pemuda menyebalkan ini akan menganggapnya benar-benar sudah tidak mengharapkannya lagi. Yah. Shilla pikir hanya ini yang bisa ia lakukan. Membiarkan perasaannya mengendap di dalam hati dan suatu saat akan keluar bersama dengan sisa makan paginya. Lalu bersikap seperti ini supaya pemuda ini diam. Ya. Itu yang terbaik yang bisa dilakukan Shilla sekarang.
“ya udah, gue sih Cuma ngasih tau...” pria kelewat tampan itu akhirnya pasrah, lalu pelan-pelan menarik perseneling dan menginjak pedal gas mobilnya
“nggak usah sok care deh lo kak, yang bikin gue gini juga elo” ujar Shilla sakrastis sambil terus-terusan menatap keluar jendela
“haaaah...” Alvin menghela nafas berat, lalu dengan hati-hati mengusap rambut Shilla yang tergerai indah “maaf ya” lanjutnya, membuat air di pelupuk yang sedari tadi Shilla tahan terus menerus mendorong kesabarannya
“hhiks...” bodoh. Ia malah membuang semua tameng ‘gadis jutek’nya dan kembali memasang wajah rapuhnya. Tapi sungguh. Tangan itu masih mau mengelus rambutnya saja sudah sebuah mukzizat. Ia begitu senang. Tapi juga sedih karena tangan itu juga yang kemarin menepisnya, membuangnya, dan menorehkan begini banyak rasa sakit.
“eh...lo kenapa? Gue salah ya?” tanya Alvin gelagapan “duh gimana nih...apa mau berenti aja dulu?”
“lo bilang jangan berharap lagi dari lo, tapi lo nggak berenti-berentinya ngasih gue harapan...gimana gue nggak sakit??” ujar Shilla sambil terisak. Nyatanya perasaannya yang terlalu besar pada pria ini selalu saja bisa mengalahkan tameng keteguhan hati yang ia bangun untuk melupakan.
“haaah, jangan anggep itu harapan buat lo...karena...gue udah punya seseorang yang sangat gue cintai...” garam itu lagi. Sebenarnya punya berapa banyak stok garam sih si Alvin ini, sampai dua tahun mengenalnya menjadi lautan tangis yang begini banyak untuk Shilla.
“s...siapa?” siapapun itu Shilla sesungguhnya tak mau tahu. Yang justru ia mau tahu adalah kapan. Kapan mereka berdua akan putus.
“dia seangkatan sama lo kok, namanya Sivia, Sivia Azizah”
**
Sivia Azizah. Shilla terus mencari. Dari kawan dan relasinya—yang memang berjibun—di sekolah, bahkan sampai ke guru-guru. Lalu. Sekarang Shilla tengah menghadapi selembar kertas hvs dengan beberapa potong foto seorang gadis sampai deretan huruf biodata lengkapnya.
“dia?” tanya Shilla pada Ify—sahabatnya—yang duduk sambil melipat tangan di depannya
“iya...ini yang namanya Sivia Azizah” jawab Ify singkat
“yakin? Kok gue kaya nggak pernah liat anak ini gitu sih? Emang dia kelas apa?” tanya Shilla setelah untuk entah ke berapa puluh kalinya memerhatikan benar-benar foto yang terpampang di kertas itu
“XII ipa 4” jawab Ify sambil ikut memerhatikan foto itu “dia emang nggak begitu well-known kayak lo sih, tapi dia cantik...” tambah Ify sambil mengerling jahil
“diiiiiiih...” Shilla mencibir sebal lalu kembali memperhatikan kertas itu, kali ini biodatanya “eh eh, dia ikut klub ballet? Cita-citanya mau jadi ballerina tingkat internasional?” tanya Shilla bersemangat
“aaah, gue tau....” ujar Shilla sambil tersenyum jahat, diikuti Ify yang juga tersenyum seperti itu
“gue juga tau” sahut Ify singkat
“ayo kita kasih sedikit pelajaran buat dia!”
**
Siangnya. Suasana ruang musik sedikit lebih ramai dari biasanya. Kealpaan miss Winda membuat semua siswa yang tergabung dalam klub ballet sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Kebanyakan sibuk menggosip, sebagian lagi asik makan dan sisanya—hanya beberapa orang—tetap melanjutkan latihan ballet sendiri. Salah satunya Sivia. Ia tengah melakukan gerakan pemanasan ringan dengan menekuk kakinya ke belakang lalu berjingkat pelan.
“rajin amat sih Vi, iya deh yang mau dicalonin ikut competition...” goda seorang gadis yang tengah asik menggigit cokelat Cadburrynya
“nggak gitu lah Cha, elah...elo juga kan dicalonin” ujar Sivia merendah
“heu, tapi kan lo kandidat terkuat...” kilah Acha santai sambil menjilati tangannya yang dipenuhi lelehan cokelat
“iiih Achaaa, liat elo makan gue jadi tergoda deeh” ujar Sivia kesal, lalu meninggalkan pemanasannya dan berjalan menuju tasnya lalu mengeluarkan sekotak cokelat mahal yang akhirnya membuat cokelat itu menjadi pusat perhatian seluruh anggota
“yeeh, emangnya gue mau bagi-bagi? Nggak lahyaauuuu” pamer Sivia sambil menjulurkan lidah, membuat anggota lain—kecuali Acha—ber huu ria lalu kembali pada aktifitas mereka sebelumnya
“kalo gue?” pinta Acha manja
“iya deeeh, satu aja yaa”
“wuaaaaa lo emang debes lah Viiii” kedua gadis itu segera melahap isi kotak itu sambil sesekali memuji pembuat dan pemberi cokelat istimewa ini
“kak Alvin tuh baik banget yaa, tajir lagi huuuh coba gue punya pacar kaya gituu...” ujar Acha sebal
“hahaha, makannya cariiii....” Acha menggerutu sebal sambil komat-kamit menyumpahi Sivia, akhirnya mereka tertawa nyaring bersamaan
“eh...” baru saja Sivia mau mencomot cokelat terakhir dalam kotaknya ketika sebuah suara menginterupsi di belakangnya
“you should watch your fat dude, emang lo pernah liat ada ballerina GE-MUK!!” Sivia dan Acha reflek membalikkan badan mereka, diikuti gerakan freeze dari seluruh anggota lainnya
“k...kok kalian dis...sini?” tanya Acha penuh keterkejutan menyaksikan dua gadis paling kontroversial di sekolahnya berada di ruangan mereka. Apalagi. Yang satu—yang paling mengerikan—memakai baju serupa mereka. Ada apa ini?
**
Kemunculan Shilla dan Ify memunculkan atmosfir kaku yang begitu pekat dalam ruangan 30 X 30 meter ini. Terlebih setelah miss Winda menjelaskan duduk perkara. Mengapa Shilla tiba-tiba masuk dengan pakaian ballerina lengkap.
“kita kedatangan anggota baru yang spesial, dia Shilla, kalian pasti kenal kan?” jelas saja semua mengenal Shilla. Satu sekolah, sampai rumput dan pohon, pasti juga tahu siapa Shilla. Adik dari Gabriel, alumnus sekolah yang amat besar pengaruhnya pada sekolah ini. Juara lomba debat segala bahasa yang menurut beberapa orang suka sok cantik padahal punya tampang yang biasa saja. Terlebih ia selalu di backingi oleh sahabatnya yang tak kalah populer. Ify. Playgirl cap jempol keluaran kelas XII ipa. Ia cantik. Dan serba bisa. Pacar dari Mario Stevano. Salah satu most wanted sekolah ini. Jadi. Bagaimana bisa mereka tidak mengenal mereka berdua?
“ibu sangat senang karena Shilla mau masuk ke klub kita, dia sangat berbakat dan ibu kira dia bisa membawa nama sekolah kita di ajang nasional...” seluruh anggota klub tercengang. Bagaimana bisa? Ia bahkan tak sekalipun terlihat mengikuti pelatihan menyakitkan yang harus dilakukan seluruh anggota sebelum masuk dalam taraf ‘bisa mengikuti kompetisi tingkat kabupaten’ lalu ini? baru masuk mau langsung dijadikan ikon?
“tapi bu....” Acha mengacungkan tangannya, berniat protes. Menimbulkan lirikan sarat penindasan dari Ify yang terus berdiri di samping Shilla
“kenapa? Nggak terima?” tanya Ify sarkastis
“bukan begitu tapi....” Acha menggantung kalimatnya, berniat mundur saja. Lalu gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan Ify yang melumat habis keberaniannya
“kami butuh bukti...” Sivia berdiri, dengan lantang menyerukan apa yang tidak jadi disebutkan Acha. Tidak seperti Acha, Sivia hanya memfokuskan tatapannya pada papan tulis, tak mau menjadi beku seperti Acha.
“hahahaha” Shilla dan Ify tertawa mengejek
“semua juga begitu kok, sebelum masuk sini...apalagi langsung jadi kandidat kompetisi tinggkat tinggi begitu” bela Sivia
“oke, gimana Shilla? Bersedia?” tanya miss Winda
“dengan senang hati...” Shilla menatap mata Sivia lalu tersenyum
**
“fur elise” ujar Shilla singkat pada seorang gadis yang baru saja menanyainya lagu apa yang akan digunakan untuk mengiringi tariannya.
Shilla mengangguk. Lalu dentingan fur elise mengalun dari sebuah grand piano di tepi ruangan.
Shilla mengangkat satu kakinya tinggi-tinggi lalu memposisikan tangannya seperti sudut siku-siku. Kepalanya terangkat angkuh kedepan. Lalu tarian itu mengalir.
Semua mata memandang dengan terkesima. Sekali-kali bertepuk tangan takjub saat Shilla melakukan gerakan terbang dalam grand pas de deux seorang diri—karena gerakan ini biasanya dilakukan berpasangan. Tak satu matapun bisa berkedip menyaksikan keanggunan seekor angsa yang disajikan oleh Shilla.
“pointe work?” tanya Sivia kagum, membuat Ify yang berdiri di sampingnya tersenyum kecut
“dia pernah ikut RDAC...” ujar Ify angkuh, sama sekali tak mau menatap gadis yang tengah tercengang di sampingnya
“royal dance academy competition?” tanya Sivia takjub
“yap, tujuh tahun lalu...juara dua doang sih” pamer Ify sok merendah “yang all-ages tapi...”
Sivia sontak membelalak kaget. Pantas saja. Pantas Shilla menari begitu anggun dan sempurna. Dia. Juara dua kompetisi dunia. Waktu umurnya sepuluh tahun? Astaga. Tinggi sekali kastanya.
“plok..plok..plok..plok” semua bertepuk tangan ketika Shilla mengakhiri tariannya dengan gerakan virtuoso yang sangat sempurna
“thanks...” Shilla menepuk pundak gadis yang baru saja bekerja dibalik kesuksesannya. Membuat gadis di balik piano itu tersenyum bingung.
“jadi....siapa yang masih ragu akan kemampuan gue? Kalo ada...gue siap duel”
**
Dari tadi sebenarnya. Shilla sudah merasa tubuhnya tidak berkoordinasi dengan sempurna dengan otak. Tapi. Bukan Shilla namanya kalau tidak keras kepala. Ia bersikeras untuk tidak terlalu merasakannya. Lalu ketika gadis menyebalkan itu menyudutkan harga dirinya, ia mau tak mau mempertaruhkan lebih dari setengah sisa kekuatannya untuk menari. Pantas. Kalau sekarang kepalanya berdenyut menyakitkan disertai nyeri dan lemas di seluruh tubuh. Tubuhnya meronta. Meminta Shilla untuk sebentar saja mengistirahatkan mereka.
“gila, lo liat kan Shill... pada cengo abis waktu lo nawarin duel, gue sebenernya mau ngakak tuh, untung aja bisa gue tahan, Shilla mau dilawan....” Ify mengoceh ceria sambil terus memperhatikan handphonenya. Tak sadar gadis di sampingnya berjalan amat pelan, dan terus berpegang pada tembok di sisi kirinya.
“aduh...” kali ini Shilla sudah tidak tahan. Tubuhnya sudah tidak lagi mampu menahan berat tubuhnya sendiri. Pandangannya perlahan-lahan mengabur. Lalu.
“bruuugh” tubuh itu tak lagi mau mengalah. Mereka sudah sangat lelah. Dibantu oleh kesadaran, mereka memaksa Shilla beristirahat.
“SHILL!!! SHILLA!!!”
**
Lagi-lagi. Gadis itu terbangun di kamarnya sendiri. Kali ini kepalanya terlalu pening untuk menyadari siapa yang tengah tidur dengan wajah telungkup di tepi ranjangnya.
“hey Vin, udah lama...eh Shilla, udah bangun?” walaupun samar, gadis itu bisa mengenali kalau itu kakaknya
“heemm” Shilla mengangguk, lalu tubuh lainnya—yang tadi ikut tertidur—bergerak. Membuat Shilla sadar siapa yang menemaninya sedari tadi
“kak Alvin??” pekik Shilla “aduduuh...” kepalanya masih belum mau bekerja sama dengan baik, ia merintih sambil memegangi kepalanya. Membuat Alvin reflek memeluk punggungnya. Dan membuat Gabriel tersenyum
“siapa lagi? lo pikir kakak lo mau njemput walaupun tau keadaan lo begini?” ujar Alvin sarkastis. Ya. Tadi sore, saking paniknya—karena sekolah sudah benar-benar sepi—otak Ify hanya bisa merefleksikan dua nama penolong. Satu Gabriel. Dan satu Alvin. Tapi karena yang pertama—untuk alasan apapun—sudah pasti tidak sudi datang. Jadilah tinggal satu nama lagi. Dan untungnya. Alvin itu seperti 5205 yang selalu siap kapanpun dan dimanapun.
“nggak gitu lah bro, lo tau kan gue sibuk...nggak bisa lah kalo masalah sepele gini harus gue yang turun tangan, hehe kan ada elo...” ujar Gabriel ngawur sambil meletakkan nampan berisi air minum dan obat yang harus diminum Shilla
“sepele? Ade lo sekarat lo bilang sepele? Gue yang bukan siapa-siapanya aja hampir jantungan dengernya” Shilla tersenyum. Kalau tidak sayang padanya. Kenapa juga dia begitu perhatian padanya. Indikasinya. “lagian ya...hari ini tuh gue janjian sama pacar gue bakal makan malem, sejak gue sampe di Jakarta belom pernah gue jalan sama dia lagi, dan sekarang gara-gara........gue jadi nggak bisa jalan sama dia” indikasinya salah lagi. Ternyata pria ini memang hanya punya garam untuknya.
“lo tinggal aja gue, beres kan? Kenapa mesti susah-susah nolongin sih kalo ujungnya lo Cuma bakal pamer kepahlawanan lo dan nyesel sendiri! Gue nggak minta lo tolongin ya!” ujar Shilla akhirnya, setelah menelan beberapa pil yang disediakan kakaknya
“heh anak kecil, gue gini-gini masih punya perasaan ya! punya belas kasihan nggak kaya kakak lo itu!” ujar Alvin tak mau kalah
“kalo lo masih punya hati...” ujar Shilla yang mulai menangis “lo nggak bakal ngasih gue harapan kosong dan ninggalin gue saat gue udah bener-bener nggak bisa nerima orang lain buat gue cintai...kalo nggak suka, harusnya lo bilang dari awal, jangan ngebiarin gue mati dimakan fantasi gue gara-gara harapan lo! lo itu orang paling kejam yang pernah gue tau!! Harusnya lo bunuh aja gue!!” teriak Shilla frustasi
“eh...kenapa sih? Udah-udah Shill, udah...” ujar Gabriel menenangkan, pria itu menghampiri Shilla lalu mengisyaratkan Alvin untuk pergi
“biar gue yang urus, lo balik aja” suruh Gabriel yang tengah memeluk adiknya
“yoi, kalo dia udah baikan, bilangin gue minta maaf” pamit Alvin, lalu setelah mendapat anggukan Gabriel, pemuda itu pulang ke rumahnya yang hanya bersebelahan pagar tanaman dengan rumah Shilla
“udah ya sayang...cup cup cup...” hibur Gabriel yang sangat tidak tega kalau adik kesayangannya ini sudah menangis
“d...ddia ud..ah...pergi?” tanya Shilla sesenggukan
“udah, cerita yuk sama kakak” tawar Gabriel sambil mengelus kepala Shilla dengan sayang
“kakak tau dia udah punya pacar?” tanya Shilla
“tau” jawab Gabriel ragu. Ia tahu adiknya ini menyukai sahabatnya. Dan ia sangat sayang pada adiknya. Tapi. Apa yang bisa dilakukannya pada perasaan sahabatnya yang hanya menganggap Shilla sebagai adik itu?
“kenapa lo nggak bilang sih kaaaak!!! Kalo lo bilang dari dulu kan gue nggak bakal beginiiiiiii!!!” Shilla menangis lagi. Sungguh. Hanya dalam tiga hari ia bisa begitu mencintai pria ini. Tapi. Tiga tahunpun tak cukup untuknya melupakan. Kalau hanya untuk dibuang seperti ini, untuk apa semua perhatian dan kasih sayang yang terus menerus dicekokkan padanya tiga tahun ini? Kalau alasannya, ia hanya menganggapnya sebagai adik. Shilla tak bisa terima. Apa pria itu benar-benar tidak tahu bahwa wanita adalah mahluk yang sangat mudah geer. Sampai satu senyumanpun bisa mereka salah artikan sebagai cinta. Tapi. Kalau tujuan pria itu memang untuk menyakitinya, ini sudah lebih dari sakit. Kalau mau membunuh, bunuh saja secara langsung. Bilang saja dari dulu kalau ia tak menyukai Shilla. Jangan memberi harapan-harapan kosong yang berkembang biak terlalu cepat di hatinya. Ini namanya menyiksa sebelum pada akhirnya, sama saja membunuhnya.
“sorry, gue juga baru tahu akhir-akhir ini” lirih Gabriel, memeluk lagi adiknya yang menangis sejadi-jadinya lagi
“sakit kaaaak, rasanya sakiittt banget...gue sampe mau bunuh diri aja saking sakitnya” ujar Shilla pelan dan dalam, membuat Gabriel trenyuh dan menyesal sendiri. Kenapa ia biarkan adiknya sedalam ini jatuh. Kenapa ia tak menolongnya dari dulu, sebelum rasa itu berkembang menjadi sebesar ini.
“jangan gitu Shill, toh besok belom kiamat, masih ada waktu buat lo dapetin Alvin...”
**
Di kamarnya. Alvin tak bisa tidur. Memejamkan mata berapa kalipun hanya akan membuatnya kembali mengingat cercaan Shilla dan wajah menangisnya. Tapi entah mengapa, bukannya membalas rentetan pesan yang dikirim kekasihnya, ia malah duduk di sisi depan jendela kamarnya yang tepat berhadapan dengan kamar Shilla. Jendela kamarnya terbuka. Tapi milik Shilla yang tertutup. Jadi ia harus puas hanya dengan menerka apa yang sedang diadukan Shilla pada sahabatnya di dalam sana karena siluet yang tergambar pada tirai Shilla sama sekali tidak membantu.
Beberapa jam mengintai begitu, Alvin akhirnya bertindak setelah siluet seseorang pergi meninggalkan kamar Shilla dan lampu kamar gadis itu sendiri padam. Alvin cepat-cepat mengambil handphonenya di kasur,mengabaikan banyak pesan dari Sivia, lalu mulai mengetik sebuah pesan untuk Gabriel.
To: Iel Mbro
Gimana yel? Gue dimaafin?
Beberapa menit menunggu dengan tegang, akhirnya handphonenya berbunyi juga. Segera pria itu menyambarnya.
From: Iel Mbro
Gue perlu ngmg sama lo. Besok ke cafe gue jam 5pm!
Bukan jawaban yang ia mau. Tapi. Jujur saja. Isi pesan itu membuatnya makin tak bisa tidur.
**
Paginya Shilla bangun dengan tekad sekeras baja. Karena tak ia temukan cara untuk melupakan pria itu. Ia akan berubah berjuang. Akan ia ubah rasa sakit ini menjadi senjata dan luka-luka bernanah itu menjadi tamengnya. Dalam peperangan yang akan ia jalani ini. Menang atau kalah ditentukan dari seberapa lama ia dan lawannya bisa bertahan. Dan kali ini, ia tak akan bertahan. Tapi justru menyerang. Lihat saja. Untuk cinta. Gadis ini akan berubah menjadi egois.
Tapi perang baru akan ia mulai lagi esok hari. Hari ini. Akan ia gunakan waktu untuk memulihkan diri dan menguatkan hati. Karena. Kalau besok sampai seterusnya akan ada yang terluka. Itu pasti dirinya. Tapi. Kalau ia terluka. Lawannya juga harus merasakannya.
**
Ketidak hadiran Shilla di sekolah hari ini. Membuat Ify bagai terasing dari peradaban. Seharian ini ia hanya akan berjalan kesana-kemari mencari-cari keberadaan Rio. Setelah bosan dengan jawaban ‘nggak tau’ dari teman-teman payah pacarnya, ia akan begini. Menggelandang.
Lima belas menit lagi jam istirahat akan berakhir. Dan gadis berwajah tirus ini baru menemukan bahwa perutnya lapar. Jadi akhirnya ia mengakhiri pengembaraannya dan berjalan dengan angkuh menuju kantin.
“apa lo liat-liat?” tanya Ify pada setiap mata yang menatapnya sambil berbisik-bisik. Yang akan segera menghasilkan ekspresi ngeri dan rentetan kata ‘maaf kak’ dari anak-anak itu
Ify mencibir ketika sadar bahwa tak ada kursi kosong disana. Baru ia mau menyingkirkan beberapa adik kelas yang duduk bergerombol di dekatnya, sampai ia melihat sebuah meja dengan penghuni dua orang yang amat menarik buatnya.
**
Dua gadis itu. Sivia dan Acha. Duduk canggung tanpa sanggup melakukan gerakan apapun. Gadis di hadapannya ini menahan mereka dalam posisi begitu sejak tiba-tiba saja ia berdiri di hadapan mereka sambil berkata “gue duduk sini, bolehin atau lo aja yang pergi!” Yah. Mereka bisa apa lagi.
“eh lo...” ujar Ify sambi mengarahkan sumpit yang ia pegang ke seorang gadis yang tengah asik melahap bakpau, beberapa meter di depannya.
“s...saya kak?” sebenarnya. Gadis ini juga warga kelas XII. Tapi. Ify ini terkenal sangat sensitif dan mengerikan. Jadi. Kebanyakan anak yang tergolong ‘minder’ biasanya lebih memilih mencari aman dengan mengagungkannya.
“iya elo, pesenin bakso kosongan sama yoghurt low fat strawberry satu! Cepetan!” suruh Ify. tak terbantahkan.
“lo nggak bisa jalan sendiri apa?” seru Sivia tak tahan. Tindakan sok kuasa Ify barusan membuat amarah—yang sedari tadi ia pendam dalam-dalam—mencapai ubun-ubun. “kan kasian, dia juga lagi makan!”
Ify menatap gadis di depannya ini dengan angkuh. Menegaskan bahwa ia ada di kasta ksatria dan gadis gembel ini Cuma si sudra. Jadi. Sama sekali tidak pantas gadis itu melawannya. Mau jadi pahlawan eh?
“kalo gitu lo aja sana! Nih uangnya, kembaliannya lo ambil aja” ujar Ify. Lagi-lagi tak terbantah.
Sivia meradang. Tangannya mengepal keras-keras. Tinggal menunggu waktu untuk melayangkannya ke wajah tirus Ify. Sudah cukup. Kalau Ify pikir hanya dia yang bisa mengintimidasi. Biar ia tunjukkan kalau ia juga bisa.
“b...biar saya aja...” akhirnya—karena ngeri dan malu jadi pusat perhatian seisi kantin—gadis pertama mengambil uang yang tadi dilempar Ify. Lalu berlari kecil menuju stand bakso beberapa meter di depan tempat perkara. Meninggalkan dua orang itu saling bertatapan. Yang satu dengan tatapan penuh emosi yang digambarkan dengan hampir keluarnya bola mata, sementara yang lainnya menatap sombong seperti biasa.
“jangan lo pikir karena lo pacaran sama kak Alvin, dia bisa ngelindungin lo dari kita!” lanjut Ify sambil tersenyum miring “tadinya Cuma Shilla yang punya dendam sama lo, tapi sekarang.... gue juga! So...jangan salahin gue kalo idup lo bakal kayak neraka mulai dari sekarang! Lo yang mulai ya. SI-VI-A!”
**
Untuk sisa waktu selanjutnya. Terhitung setelah ancaman diperdengarkan. Pikiran gadis itu jadi amat tidak tenang. Wajar jika ia takut. Lawannya kali ini tidak main-main. Dua wanita itu bukanlah orang biasa. Mereka adalah salah dua dari segelintir pemegang kekuasaan tertinggi atas pergaulan di sekolahnya. Jadi. Kasarnya. Mau membunuhpun sah-sah saja. Tak akan ada yang melarang. Sempat terpikir untuk mundur. Tapi. Harga dirinya tak seciut itu sampai sudi berlutut di kaki dua orang songong itu. Lebih baik Sivia mati saja kalau begitu.
Sekarang sudah sepuluh menit sejak bel pulang berbunyi. Dan Sivia sama sekali belum bisa keluar dari fase suramnya. Acha yang sejak tadi memperhatikan jadi bingung sendiri. Sudah beberapa kali ia menerima sms dari teman-teman se klubnya—bahkan yang terakhir dari Miss Winda sendiri—yang mengingatkan sampai memaksa mereka berdua untuk cepat-cepat ke ekskul ballet.
“viiiii?” tanya Acha kikuk sambil menepuk pundak sahabatnya yang terus-terusan melamun sejak tadi
“eh..haah?” tanya Sivia linglung
“lo...mau ekskul nggak? Kita udah ditunggu Miss Winda?” tanya Acha hati-hati
Sivia melamun lagi. Terbayang lagi apa yang akan dilakukan dua wanita bengis itu. Tapi lalu ketinggian hati mengkover ketakutannya menjadi tinggal sebesar biji kacang.
“yuk...” ajak Sivia ragu
“eh...lo nggak papa? Ada Shill....” Acha tak melanjutkan kalimatnya karena Sivia tiba-tiba menatap manik matanya sambil tersenyum pasrah
“apapun yang bakal terjadi, bakal gue hadapi...”
**
Shilla sedang ada di balkon kamarnya sekarang. Berdiri menghadap kamar di seberangnya sambil sesekali mengelap ujung mata yang jadi basah. Nyatanya. Ingatan tentang pria itu selalu mampu mengalirkan air di mata Shilla. Berapa kalipun meyakinkan diri bahwa semua akan berjalan sesempurna angan-angannya. Shilla tak mampu juga seratus persen percaya diri. Kalau dihitung. Mungkin kepercayaan diri yang ia punya masih jauh dari setengahnya.
Handphone yang sedari tadi duduk manis dalam sakunya. Kini menjeritkan suara penyanyi rap favoritnya. Dengan malas Shilla meraihnya.
From: Ippong
Shillaaaaaaaaaa....lo harus tau yg dilakuin si odong-odong ke gw! Kesel banget taugaaaa? Rawwwkkk... lo cepet sembuh dong syg, biar kita bsa ngerjain dia abis2an!
Shilla mengernyit. Hah? Odong-odong?
To: Ippong
Who is odong2?
Beberapa saat handphonenya menjeritkan dering. Penanda balasan pesan itu telah sampai.
From: Ippong
Sivia!! Gila dia tuh berani bgt sama gue! Njirrr... minta di push kali tuh
Shilla nyengir. Jadi bingung sendiri. Terakhir kali Shilla memberi tahu Ify tentang rencananya. Gadis itu malah menasihatinya untuk tidak terlalu meng-push Sivia. Tapi sekarang? Ah. Apa ya kira-kira yang terjadi tadi? Shilla jadi penasaran sendiri.
“cklek...” Shilla terkesiap. Menyesal. Teramat sangat menyesal. Karena tadi terlalu asik dengan sms-smsnya untuk Ify. Gadis itu sampai tidak mendengar suara mobil datang. Dan sekarang. Ia jadi terjebak pada tatapan mematikan pria yang justru sedang sangat ingin ia hindari.
“gimana Shill, udah mendingan?” tanya Alvin sambil ikut bersender pada pagar balkonnya sendiri
“haaah” Shilla menghela nafas berat. Suara itu benar-benar menghancurkan seluruh pertahanannya. Lagi. Dan lagi. Gadis itu harus susah payah menahan air mata. Kalau efek suaranya saja sudah sebesar ini, bagaimana yang lainnya? “udah gue bilang, nggak usah peduliin gue...” lanjutnya sambil menggigit bibir dan dengan mata yang terus menatap ke bawah
“gue nggak bisa, lo adek gue...dan gue...” Alvin tak melanjutkan kalimatnya setelah melihat ternyata gadis yang sedang ia ajak bicara sudah mulai menangis lagi.
“tadi gue ketemu kakak lo...” ujar Alvin pelan, entah kenapa merasa punya kewajiban untuk memberitahukan hal ini
“setiap hari juga ketemu!” balas Shilla dengan suara bergetar
“hmmmh...” pertama, Alvin menghela nafasnya panjang-panjang, lalu melanjutkan “kali ini beda. Dia khusus minta gue ke cafenya buat ngomongin tentang elo...”
“gue??” pekik Shilla. Luar biasa kaget. Dibiarkannya pria di depannya tersenyum sedih melihat matanya yang sudah digenangi air.
“iya...” jawab Alvin singkat
“oh. Bukan urusan gue...”
“hmmm...gitu ya? gue jadi sedih” deg. Jantung Shilla hampir copot mendengarnya. Sedih? Orang ini pasti becanda. Buat apa dia sedih? Bukannya semua kesedihan yang ia punya sudah ditukar dengan seluruh kebahagiaan milik Shilla?
“sedih?” tanya Shilla. Benar-benar tertekan. “sedih karena apa? Karena lo nggak bisa ngeliat gue keabisan oksigen gara-gara nangisin lo, iya!? Gue tau kak, apapun yang terjadi disana, antara lo dan kak Iel...nggak akan ngerubah apapun, yang bisa ngerubah itu Cuma gue dan elo!!” pekik Shilla susah payah
“ya, lo bener...” jawab Alvin pasrah, setelah beberapa saat hanya menatap langit yang mulai menjadi jingga
“bener?” ulang Shilla “kalo gitu...gue mau ngerubah!” lanjutnya tegas. Telah benar-benar memantapkan hati. Ini adalah kesempatan terakhirnya. Dan ia harus berani mengambilnya. Apapun resikonya.
“haaa?” Alvin diliputi kebingungan
“gue bilang, gue mau ngerubah! Ngerubah perasaan lo ke gue! Ngerubah skor gue jadi diatas Sivia! Boleh?” tanya Shilla. Untuk pertama kalinya merasa amat excited untuk sebuah tantangan.
“b...boleh?” sebuah pertanyaan. Bukan pernyataan.
“kalo gitu...ijinin gue buat nyakitin dia”
**
Paginya Gabriel berjanji akan menggantikan pekerjaan Alvin untuk menjadi supirnya. Dan sekarang. Lima belas menit sebelum jam berdentang enam kali. Pemuda itu sudah siap sedia di ruang tamu. Sibuk mengetik pesan untuk pacar-pacarnya.
To: honey 1;honey 2;honey 3; honey 4; honey 5
Morning hun, sleep well tnite? Have a blast day...loveyaaaa ;)
Suara ketukan teratur di tangga membuat Gabriel cepat-cepat memasukkan handphonenya ke saku jaket motor yang ia pakai.
“sleep well ndut?” tanya Iel sambil bangkit dari duduknya dan menghampiri Shilla
“yap, thankyou cung!! Tauga ka? Semalem gue mimpi dilamar Cody Simpson! Gilaaa gilaaaaaa!!!” ujar Shilla. Ceria seperti biasa. Membuat bibir kakaknya mengembangkan senyum
“eh, kenapa lo? Aneh banget...” tanya Shilla saat kakaknya yang biasanya langsung mengatainya macam-macam hanya diam dan tersenyum
“haha nggak, gue seneng lo cheerfull lagi” ujar Iel singkat sambil mengacak rambut adiknya yang hari ini diikat tinggi
“SHILLA, gitu lloooo...” lebih dari itu. Ada sesuatu yang harus diselesaikannya. Rencana yang sudah ia lakukan mulai kemarin. Dia Shilla. Sekali maju. Pantang buatnya untuk mundur lagi. Satu lagi. Kata-kata Gabriel di akhir perbincangan mereka kemarin malam. Membuatnya tidak mau hanya berdiam diri dan menangis. Baginya. Cinta itu perlu diperjuangkan.
“Shill.......” ah. Shilla baru sadar. Ia sudah terlalu lama melamun begini. “ayoooo” panggil kakaknya lagi
“eh iya, ayo...” Shilla berjalan riang sambil mengamit tangan kakaknya layaknya orang yang berpacaran. Matanya mengunci fokus pada rumah di sampingnya.
Ah. Mobilnya sudah tidak ada.
**
*ber-sam-bung eeeaaa